BUZZERSUKABUMI.COM - Momentum santunan anak yatim yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAI Palabuhanratu menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian penting dari jati diri seorang mahasiswa. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan bantuan bagi anak-anak yatim, tetapi juga menegaskan komitmen mahasiswa untuk terus hadir di tengah masyarakat melalui aksi nyata.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua BEM STAI Palabuhanratu menyampaikan bahwa kehilangan adalah kenyataan yang harus dihadapi oleh sebagian anak-anak, namun harapan tetap bisa tumbuh apabila ada kepedulian dari banyak pihak. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial yang tidak berhenti pada pencapaian akademik semata.
"Adik-adik yatim hari ini mengajarkan kita bahwa kehilangan itu nyata, tetapi harapan adalah pilihan. Tugas kita sebagai mahasiswa bukan hanya mengejar gelar dan lulus dengan prestasi, melainkan memastikan tidak ada adik-adik kita yang harus putus sekolah karena keterbatasan biaya," ujar Ketua BEM STAI Palabuhanratu.
Ia juga menegaskan bahwa keberadaan BEM bukan sekadar simbol organisasi kemahasiswaan, melainkan wadah untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
"Jadilah orang yang ringan tangan, bukan hanya berat di omongan. BEM hadir bukan untuk gagah-gagahan, tetapi menjadi jembatan kebaikan bagi mereka yang membutuhkan," tegasnya.
Sementara itu, Presiden Mahasiswa STAI Palabuhanratu, Fairuz, menekankan bahwa kegiatan sosial tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya mampu menyuarakan aspirasi melalui mimbar, tetapi juga mampu mewujudkannya dalam bentuk tindakan nyata.
"Hari ini kita buktikan bahwa BEM bukan hanya pandai berorasi, tetapi juga turun langsung membuktikan janji pengabdian. Kita bukan organisasi yang sibuk membangun pencitraan, melainkan rumah bagi mereka yang membutuhkan sandaran," kata Fairuz.
Menurutnya, anak-anak yatim tidak membutuhkan sekadar ungkapan simpati, tetapi membutuhkan kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan.
"Mereka tidak membutuhkan kata-kata manis. Mereka membutuhkan aksi nyata. Hari ini kita menjawabnya dengan perbuatan, bukan sekadar janji," ungkapnya.
Fairuz juga mengajak seluruh mahasiswa untuk menjaga semangat kepedulian dan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
"Mahasiswa harus memiliki dua tangan: satu untuk melawan ketidakadilan dan satu lagi untuk merangkul mereka yang tertindas. Jangan bangga menjadi mahasiswa jika hanya berani di kampus, tetapi menutup mata terhadap persoalan di luar sana," ujarnya.
Menutup sambutannya, ia mengajak seluruh mahasiswa agar tidak membiarkan semangat kepedulian berhenti setelah kegiatan selesai.
"Bawa pulang semangat hari ini. Jangan biarkan kepedulian kita mati setelah spanduk diturunkan. BEM akan terus berdiri di garda terdepan membela yang lemah, karena diam terhadap penderitaan adalah bentuk pengkhianatan. Kita mahasiswa, kita pejuang, kita saudara mereka," pungkas Fairuz.
Kegiatan santunan tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya kepedulian sosial di lingkungan kampus, sekaligus mengingatkan bahwa peran mahasiswa tidak hanya sebagai insan akademis, tetapi juga sebagai penggerak perubahan yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.

Komentar0