BUZZERSUKABUMI.COM - Inisiatif pengembangan kopi berbasis keberlanjutan mulai tumbuh di lereng Gunung Salak, tepatnya di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Kabupaten Sukabumi. Program ini menjadi contoh nyata bagaimana potensi desa dapat dikembangkan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Pengembangan kopi tersebut digerakkan oleh Absolute Coffee bersama komunitas petani di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan. Melalui pendekatan agroforestri, budidaya kopi tidak hanya berfokus pada hasil produksi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem hutan.
Pendiri Absolute Coffee, Muhamad Kosar, menegaskan bahwa kopi yang dikembangkan di wilayah tersebut memiliki nilai lebih dari sekadar komoditas ekonomi.
“Kopi bukan sekadar komoditas, tetapi bagian dari sistem ekologi yang lebih luas,” ujarnya, pada Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, pendekatan agroforestri menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan kawasan, mengingat lokasi perkebunan berada di wilayah penyangga taman nasional. Pola ini menggabungkan tanaman kopi dengan vegetasi lain, sehingga mampu menjaga kesuburan tanah sekaligus melindungi lingkungan.
Dalam praktiknya, para petani mendapatkan pendampingan menyeluruh, mulai dari pemilihan bibit unggul, pengelolaan kebun, hingga teknik panen selektif dengan memetik buah kopi merah yang telah matang. Tak hanya itu, proses pascapanen juga ditingkatkan melalui metode fermentasi dan pengeringan guna menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi.
Program ini melibatkan tujuh Kelompok Tani Hutan (KTH) dan 13 Kelompok Tani (Poktan). Pendampingan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas teknis petani agar mampu mengelola usaha secara lebih profesional dan berdaya saing.
Dukungan juga datang dari Star Energy Geothermal yang berkontribusi dalam penguatan infrastruktur usaha, peningkatan kapasitas budidaya dan pascapanen, serta pengembangan branding produk.
“Dukungan ini mendorong peningkatan produktivitas sekaligus pendapatan usaha petani,” kata Kosar.
Saat ini, usaha kopi di Desa Cipeuteuy mencatat omzet rata-rata sekitar Rp150 juta per tahun. Angka tersebut menunjukkan tren peningkatan seiring dengan membaiknya kualitas produksi dan pengelolaan usaha.
Tak hanya berhenti pada produksi, pengembangan kopi juga diarahkan menjadi sarana edukasi dan promosi desa. Sebuah kedai kopi didirikan sebagai etalase produk lokal sekaligus ruang interaksi.
Dari sana, lahir Rumah Belajar (RUBE) Kopi Cipeuteuy, yang kini menjadi pusat pembelajaran bagi petani, mahasiswa, peneliti, hingga wisatawan. Di tempat ini, pengunjung dapat mempelajari proses kopi secara utuh, mulai dari budidaya hingga menjadi minuman siap saji.
Inisiatif ini menjadi bukti bahwa potensi desa, jika dikelola dengan kolaborasi dan pendekatan berkelanjutan, mampu mendorong kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian alam.

Komentar0