BUZZERSUKABUMI.COM - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan dukungan penuh terhadap penyusunan kajian akademik mengenai dua peninggalan penting budaya Sunda, yaitu Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake. Kajian tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman sejarah yang lebih ilmiah, lengkap, dan mudah dipahami masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Dedi dalam diskusi kebudayaan bertajuk “Prasasti Batutulis dan Makuta Binokasih Sanghyang Pake” yang berlangsung di Museum Pajajaran, Kamis (14/5/2026).
Menurut Dedi, Prasasti Batutulis perlu dibahas secara mendalam melalui buku akademik yang memuat berbagai informasi penting, seperti waktu pembuatannya, bahan yang digunakan, tokoh pembuat prasasti, hingga arti dari tulisan yang terukir di dalamnya. Kajian serupa juga akan dilakukan terhadap Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.
Ia menilai langkah tersebut penting karena Bogor merupakan pusat Kerajaan Pakuan Pajajaran yang memiliki nilai sejarah besar bagi masyarakat Sunda. Kajian ilmiah itu nantinya diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan tata ruang, pembangunan daerah, pendidikan, hingga kebijakan kebudayaan di Jawa Barat.
Dedi juga menegaskan bahwa Prasasti Batutulis bukan hanya benda peninggalan sejarah, melainkan bukti kejayaan Kerajaan Sunda pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi. Menurutnya, upaya ini menjadi bagian dari cara menghubungkan sejarah masa lalu dengan pembangunan masa depan.
Ahli epigrafi Titi Surti Nastiti menjelaskan bahwa Prasasti Batutulis dibuat atas perintah Raja Surawisesa untuk mengenang jasa Prabu Siliwangi yang memimpin Kerajaan Sunda pada tahun 1482–1521. Pada masa pemerintahannya, Pakuan Pajajaran berkembang sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Sunda.
Namun, seiring berjalannya waktu, peninggalan fisik Kerajaan Sunda semakin sedikit ditemukan. Salah satu penyebabnya adalah perubahan kekuasaan dan berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa pada masa berikutnya.
Meski demikian, kejayaan Kerajaan Sunda masih tercermin melalui Mahkota Binokasih yang saat ini disimpan secara turun-temurun di Keraton Sumedang Larang.
Berdasarkan naskah kuno Carita Parahyangan, Mahkota Binokasih dibuat di Kerajaan Galuh sebagai simbol kekuasaan dan legitimasi bagi raja-raja Sunda. Setelah Kerajaan Sunda runtuh, mahkota tersebut diserahkan oleh utusan Pajajaran kepada penguasa Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun.
Peneliti arkeometalurgi BRIN, Harry Octavianus Sofian, menjelaskan bahwa Mahkota Binokasih memiliki hubungan erat dengan konsep kosmologi Sunda Tritangtu. Konsep tersebut menggambarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Menurut Harry, bentuk Mahkota Binokasih dirancang untuk mewakili tiga unsur kepemimpinan dalam budaya Sunda, yaitu Rama, Ratu atau Prabu, dan Resi.
Bagian atas mahkota melambangkan Rama, yaitu pemimpin spiritual yang menjaga nilai adat, agama, dan kebijaksanaan. Bentuk stupa dengan ornamen bunga teratai menggambarkan sosok pemimpin yang bijaksana dan bermanfaat bagi masyarakat.
Bagian tengah mahkota melambangkan Ratu atau Prabu sebagai pemimpin pemerintahan. Ornamen daun segitiga serta Garuda Mungkur di bagian belakang melambangkan keberanian, ketegasan, dan tanggung jawab seorang pemimpin dalam melindungi rakyatnya.
Sementara itu, bagian bawah mahkota melambangkan Resi, yaitu kaum intelektual atau penasihat kerajaan yang memberikan ilmu dan pertimbangan bagi pemimpin. Filosofi ini berkaitan dengan ajaran Kasundaan Bunisora Suradipati, tokoh penting Kerajaan Sunda-Galuh abad ke-14 yang dikenal memperkuat nilai budaya dan spiritualitas masyarakat Sunda.
Karena nilai sejarah dan filosofinya yang sangat besar, Mahkota Binokasih selama ini disimpan dan dijaga dengan ketat oleh Keraton Sumedang Larang. Namun dalam peringatan Milangkala Tatar Sunda, mahkota tersebut sempat dibawa ke beberapa daerah di Jawa Barat sebagai bagian dari napak tilas sejarah Pajajaran sekaligus upaya memperkenalkan kembali warisan budaya Sunda kepada masyarakat luas.
Komentar0