BUZZERSUKABUMI.COM - Wajah pusat Kota Palabuhanratu kini tampak berbeda dengan berdirinya Tugu Layur di depan Kantor Kelurahan Palabuhanratu. Monumen tersebut menjadi ikon baru kawasan pesisir, melengkapi simbol-simbol kota yang telah lebih dulu dikenal seperti tugu marlin, tugu penyu Gadobangkong, serta Alun-alun Palabuhanratu.
Kehadiran Tugu Layur bukan sekadar elemen estetika tata kota. Monumen ini dirancang sebagai simbol kuat identitas maritim masyarakat Palabuhanratu yang sejak lama menggantungkan kehidupan pada sektor perikanan.
Lurah Palabuhanratu, Yadi Supriadi, menjelaskan bahwa pemilihan ikan layur sebagai bentuk tugu memiliki pertimbangan historis, ekonomi, dan filosofis. Menurutnya, layur merupakan salah satu komoditas yang sangat lekat dengan kehidupan warga pesisir.
Ia menuturkan, bentuk layur yang menjulang tinggi melambangkan keteguhan dan daya juang nelayan dalam menghadapi tantangan laut selatan. Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, Palabuhanratu dikenal memiliki ombak besar yang menuntut keberanian dan ketangguhan para pencari ikan.
Secara historis, aktivitas perikanan telah menjadi denyut utama kehidupan masyarakat setempat. Identitas sebagai kota nelayan telah terbentuk sejak lama dan menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika sosial warga. Tugu Layur pun diharapkan menjadi representasi visual dari sejarah panjang tersebut.
Dari sisi ekonomi, layur termasuk komoditas unggulan dengan nilai jual yang cukup tinggi. Keberadaan Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu semakin memperkuat posisi daerah ini sebagai salah satu sentra perikanan penting. Karena itu, simbol layur dinilai relevan baik secara ekonomi maupun kultural.
Lokasi tugu yang berada di pusat kota juga dinilai strategis sebagai penanda kawasan sekaligus landmark baru bagi masyarakat dan wisatawan. Pemerintah kelurahan optimistis monumen tersebut dapat menjadi titik temu, ruang publik, sekaligus latar foto favorit pengunjung.
Dampaknya diharapkan turut dirasakan pelaku usaha mikro dan pedagang kecil di sekitar pusat kota. Kehadiran pengunjung berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi, mulai dari penjualan kuliner berbahan hasil laut, oleh-oleh, hingga jasa parkir dan transportasi lokal.
Untuk memperkuat peran Tugu Layur sebagai ikon kota, sejumlah langkah penataan direncanakan, seperti pembenahan taman, pemasangan pencahayaan artistik, penyediaan jalur pedestrian ramah disabilitas, serta penataan parkir yang tertib. Perawatan rutin dan penguatan narasi sejarah juga menjadi bagian dari strategi branding kawasan.
Tak hanya itu, gagasan penyelenggaraan agenda tahunan seperti festival layur, lomba olahan ikan, hingga kegiatan budaya pesisir juga tengah dipertimbangkan guna memperkaya daya tarik kawasan. Edukasi kepada generasi muda tentang makna simbol tersebut dinilai penting agar rasa memiliki dan kepedulian terhadap ikon kota terus tumbuh.
Ke depan, Tugu Layur diharapkan terintegrasi dengan destinasi lain seperti Pantai Palabuhanratu dan kawasan pelabuhan perikanan dalam konsep city branding berbasis maritim. Dengan begitu, monumen ini bukan hanya hiasan kota, tetapi bagian dari cerita besar tentang Palabuhanratu sebagai kota nelayan yang tangguh dan berdaya saing.
Tugu Layur sendiri dibangun menggunakan anggaran sebesar Rp12 juta yang bersumber dari penyisihan administrasi Akta Jual Beli (AJB) di Kantor Kelurahan Palabuhanratu selama satu tahun.
Sekilas tentang ikan layur, spesies bernama ilmiah Trichiurus lepturus ini memiliki bentuk tubuh panjang dan pipih menyerupai pita dengan warna perak mengilap. Dagingnya berwarna putih, lembut, serta dikenal gurih dan relatif minim duri halus. Layur juga mengandung protein dan asam lemak omega-3 yang baik untuk kesehatan. Ikan ini banyak ditemukan di perairan tropis dan umum diolah dengan cara digoreng, dibakar, maupun dijadikan ikan asin.
.png)
Komentar0